Jumat, 29 April 2016

Bab.XII.hal. 8 Kusujudkan cintaku di Mesjid Sultan

###, Kusujudkan cintaku di Mesjid Sultan



Setelah selesai sholat Asyhar, Aku kembali meletakkan keningku diatas sajadah, dengan linangan air mata, bermunajat pada Allah,:

” Trima kasih ya Allah, atas segala nya, Trima kasih atas penjagaan Mu terhadap  cinta kami, hingga Ia tetap suci sampai hari ini, dan trima kasih Kau telah bukakan hijab mistery hidupku yang menanggung rasa begitu hebatnya,


Di Mesjid Sultan, Cintaku Ku sujudkan,!"


 sehingga sempat berprasangka buruk terhadap Mu, atas rasa sakit yang  mendera karena disiksa cinta.”Aku mencintainya ya Rabb, dengan cinta yang luar biasa, karena itu sakit yang kurasakan juga luar biasa! Derita batinku hampir membunuh jiwa dengan sesak tak terkira,


Enam tiang penyangga utama mesjid Sultan, symbol Rukun Iman


Sekarang aku tahu, Ya Rabb Tuhanku, bahwa Kau ciptakan segala sesuatu berpasangan. Jika kau tanamkan rasa itu padaku, maka harusnya aku meyakini bahwa rasa itu juga tersimpan di dadanya.,”

Sekarang aku tahu, bahwa kau adalah Zat yang maha pencemburu. Sehingga, untuk menemukan," Cinta Bumi," aku harus mencari dan menemukan dulu ," Cinta Langit,"  . Aku harus menemukan Mu. Bersujud kepada RububiahMu, Mengakui dengan penuh kesadaran bahwa kelahiran ku, tak lain hanyalah untuk menjadi penyembah Mu!  Aku tak seharusnya mencari cinta selain cinta Mu. Aku tak seharusnya bersedih selain karena jauh dari Mu. Aku tak seharusnya menangis, selain dihadapan Mu.

Segala bentuk keindahan yang kulihat, adalah pantulan dari keindahan Mu. Segala bentuk kecantikan dimuka bumi ini, adalah cerminan dari Jamaliah Mu.

kau ajarkan aku, bahwa dengan rasa kehilangan, akan muncul keiklasan. Sebagaimana Kau tunjukkan pada Ibrahim Nabi Mu, dengan ujian ujian berat, meninggalkan anak dan istrinya di tengah padang tandus, di lembah Bakkah tanpa setetes air, Kau tunjukkan telaga Zam - Zam, dengan memerintahkan menyembelih Ismail, Kau ajarkan Inti Keikhlasan, kepatuhan, keyakinan, berserah diri, sepenuhnya kepada Mu, ! ya hanya pada Mu !

Itulah kenapa penderitaan Yaqub, tidak berakhir sampai tiga puluh enam tahun, setelah kehilangan Yusuf, melainkan setelah Yaqub meng ikhlaskan," Ismail- Ismail," nya, ketika Bunyamin putra bungsunya, saudara satu ibu Yusuf, tidak kembali dari Mesir, barulah Yaqub sadar, bahwa : " untuk mendapatkan kembali putra - putra terkasihnya, Ia harus meng ikhlaskannya !" Ia tidak layak meratapi Yusuf, sebab  hanya Allah yang layak diratapi ketika kita jauh dari Nya ! Ketika ada dua cinta dalam satu hati, Allah akan menghukum kita. Hanya Allah yang paling layak dan pantas untuk dicintai dengan sepenuh hati, sebagaimana  Ia mencintai kita dengan cinta yang lebih dari besarnya rasa cinta seorang ibu. Subhanallah !  

Lama aku bersujud di mesjid Sultan, dengan tangis terisak-isak, diselingi sedu sedan 


Ampuni aku Ya Allah, yang pernah menduakan cinta Mu


 Ketika kuangkat kepala, dadaku terasa lapang. Beban  itu seperti hilang. Batinku  terasa tenang, dan  aku bisa tersenyum.  Alhamdulillah,!”


Mesjid Sultan Abdurrahman, Bangunan Pertama  yang berdiri di rimba kota Pontianak


Aku segera pulang kerumah ibuku, yang letaknya tidak jauh dari situ. Berpamitan, dan memohon doanya. Kucium tangan dan keningnya dengan penuh rasa haru. Karena aku harus kemballi ke Jakarta.

 Sempat kulihat mata beliau sedikit berkaca-kaca, mungkin kerinduanya belum tuntas. Sebetulnya aku juga masih ingin tinggal dan meluangkan waktu bersama, akan tetapi aku tak mungkin membatalkan janji terhadap tamu yang sudah datang dari jauh? 

Didepan rumah, Sahabatku, sudah siap diatas sepeda motornya, menungguku, untuk mengantarkan sampai Bandara Supadio.

Pukul  lima sore pesawatku Take Off dari  Pontianak,

Burung besi itu membawaku pulang ke Jakarta sore itu juga.

Karena besok, aku ada meeting  dengan  buyer  dari Hongkong,  yang sudah datang dan tiba hari ini, sekarang menungguku di hotelnya di Grand Hyaat, dekat  Bundaran HI, (Hotel Indonesia) Jakarta Pusat.

Diudara, aku menghela nafas panjang.

Beban  batin yang selama ini mengganjal dadaku rasanya sudah tak tersisa. Hatiku terasa lapang, jiwaku terasa longgar, dan segala kenangan sudah kuendapkan kedasar jiwa   yang paling dalam.

Kubuka dompetku, dan kutatap foto istri dan anakku, yang memang selalu kubawa, kemana saja.

Aku tersenyum, lega!

Trima kasih keluarga kecilku, yang setia menungguku di rumah. Cinta dan kasih sayang  kalian , akan kujaga dengan taruhan nyawa. Meskipun sekarang aku di Jakarta, tekadku hanyalah mencari nafkah, untuk memberikan yang terbaik buat mereka.

 Bagi pendidikan dan masa depanya. Sebagaimana yang pernah aku tanamkan dalam jiwa, dulu ketika aku menikah. Jauh sebelum kehadiran kedua anakku, yang sekarang sudah menginjak remaja, dan bersekolah di tingkatan SMP dan  SMU yang terbaik dikotaku.

Trima Kasih keluargaku, Aku mencintai kalian, lebih dari segalanya! Dengan sepenuh jiwa!

Selamat tinggal Kotaku, 

Selamat tinggal ibuku! 

Selamat tinggal saudaraku, Kerabatku, teman &  Sahabatku, 

 Selamat   tinggal  semuanya,! Kita berpisah untuk sementara.

Dan untuk kamu, Belahan jiwa dan Cintaku! Simpanlah kenangan indah ini didadamu, karena aku telah menyimpanya di dasar jiwaku, sampai Izrail menjemputku!”    (10072014)


Diatas sajadah mesjid  sultan  aku bersimpuh

Memuja dengan zikir Asma Mu Laailalahaillallah …

 Senja  hening disudut kalbu

Mengingat Mu dengan  penuh rindu


. Ya Rabb….

 Aku bersujud kepadaMu

 Kepada yang khaliq 

Kepada yang zat 

Kepada yang ghoib

Kepada yang hidup


Dalam hembusan nafasku 

Kencangnya degup jantungku

 Suci batin kalbuku 

Basah merah darahku

Jauhnya pandangan mataku


Dalam indahnya pendengaranku

 Banyaknya celothe-celoteh lidahku

Dalam sempurnanya akalku

Dalam yang tak terhingga

Dalam yang tak terhitung

Dalam yang tak terduga

 Aku rasakan keagungan Mu 

KekayaanMu 

Kesempurnaan Mu 

Dalam hidupku



 Rabb …

kini aku yakin Kau dekat denganku

 Lebih dekat dari urat leherku

Kau adalah lautan 

dan aku hanyalah seekor ikan kecil

yang mengembara di samudra  rahmat  Mu 

Adakah aku akan hidup ?

Jika berpisah dari Mu !"



 Rabb…

 Izinkan aku menemukan yang kucari

Ridhoi aku mencari yang hakiki

 Dalam diamku 

kurenungi, 

kuhayati, kusimak, kudekap, kukasihi, kusayangi, kucinta 

Dikau ..dikau ..dikau ..Tuhanku…


Rabb … suburkan cintaku padaMu

 Tumbuhkan yang belum kurasa

 Indahkan sukmaku 

yang ingin merasa ‘’Manisnya Iman’’.


 Indahnya berkasih-kasih denganMu

Yang pernah dirasa mereka sebelum aku

 Yang selalu kudamba 

Yang selalu kucari 

yang selalu kurindu

 Sampaikan aku pada yang hakiki 

Dengan zikir-zikir cinta 

diatas sajadah


Laila haillallah haqqan haqqa

Lailla haillallah  taabudan wa ridqa

lailla haillallah imanan wa sidqa

Lailla haillallah !  Anta Subhanaka

Inni kuntu minazzalimiiiin



# S e l e s a i #









Bab.XII.hal.7 Bertemu untuk berpisah

###, Bertemu untuk berpisah



Sambil nongkrong di warung kopi, iseng kutelfon Dia. 

“Salam alaikom,” sapaku pada nya.

“Kom Salam, ape dibuat,?” tanyanya.

“Ana age nongrong di warung kopi Sudirman, depan PSP, dekat Matahari Mall,” jawabku sekenanya.

“Haa,? Benarlah,?” tanyanya setengah tak percaya. 

”Benar!”,   jawabku meyakinkanya.

“Bile datang?,” 
“Udah tige hari dah,!” jawabku pula.”Besok ana balek,
Jadi camane, boleh ndak kite ketemu,?” tanyaku.

“Kame takot,” jawabnya.

“Tak ape ape, asal ditempat ramai dan terbuka, kite kan bukan budak-budak age,?”  kataku pula.





Setelah berdialogh cukup lama, aku mampu meyakinkanya, tidak akan terjadi apa-apa, jika pun  kami bertemu. Akhirnya kami sepakat untuk berjumpa keesokan harinya, Jam satu siang untuk makan bersama, di Ramayana ,  jalan Imam Bonjol, daerah Kampong Kemboja.


Malam ini aku tak bisa tidur. Ingatanku menerawang  jauh  kemasa silam. kenangan tentangnya kembali memenuhi  benakku. Masih jelas dipelupuk mata, ketika Ia mengenakan seragam putih biru, berjalan ke kantin, lewat di depanku, tersenyum manis, dan sempat menyapa, ;

” Tak ke kantin ke?,”

Gelagapan aku menjawab,:” Eh, Oh, Anok, maseh nunggu kawan!,” dengan badan gemetar, panas dingin, salah tingkah!"




Hari ini adalah hari pertemuan kami.

Sudah hampir tiga puluh tahun aku tak  bertemu denganya. Sejak selesai SMP, sekitar tahun Sembilan belas delapan tiga.

Sudah tiga puluh tiga tahun, aku mencintainya, sejak pertama melihatnya, sekitar tahun Sembilan belas tujuh puluh delapan, ketika ia masih kelas tiga sekolah dasar, melintas di depan SD.18,




Jam sebelas siang aku sudah menyiapkan diri. Kukenakan kemeja terbaik yang kupunya.  kurapikan kumis dan rambutku, yang satu dua sudah mulai memutih itu. Kusemprotkan farfum ke tubuhku, aku merasa  segar dan percaya diri.

Ku starter Sepeda motor Mio yang  dipinjamkan  sahabatku  untuk kugunakan selama disini. Ketika turun dari jembatan Kapuas satu, waktu sudah pukul  dua belas Lebih lima puluh menit.  Akhh, aku mungkin terlambat,  gumamku.
 Ketika selesai memarkir sepeda motor, handphoneku  berdering disaku kemeja.

“Dimane?”  terdengar suaranya bertanya.

“Ana baru sampai nih, udah di tempat parkir, kite nak makan dimane,?” tanyaku.

“Di KFC jak, !” katanya. ”Oke!”, jawabku, sambil menutup Hp.

Aku segera berputar kedepan, masuk dari pintu utama yang menghadap ke jalan raya. Disudut kanan, Terlihat gerai KFC , tepat di depan sebelah kiri bangunan Ramayana Imam bonjol 




.Ketika pintu ku dorong, mataku mencari sesosok wajah, yang aku sudah tak punya gambaran seperti apa rupanya, pakai baju apa, bersama siapa, dan berkerudung atau tetap tanpa penutup kepala?  Memakai sedres atau celana panjang seperti biasa?

 Mataku tertumbuk pada sesosok wanita disudut meja, yang sedang menunduk memencet-mencet tombol hp nya. Dia duduk sendiri!

“Salam alaikum, “Sapaku padanya.” lama ke nunggu,?’ tanyaku lagi

Dia mengangkat muka, sejenak mata kami bertumbukan, dan tubuhku mendadak bergetar rasanya. Tulangku seperti  lolos dari rangkanya.  aku hampir tak sanggup berdiri lagi. Cepat kusambar kursi, dan ku dudukkan tubuhku, tepat dihadapanya.



 Kami hanya dibatasi meja. Rupanya rasa ini tak mampu kututupi. Aku masih sama seperti yang dulu, tiap kali bertemu dan melihatnya. Menggigil dan gemetar!

Kurasakan badanku panas dingin,  jantungku berubah cepat getaranya.  Sekitar sepuluh menit, kami tak mampu bicara. Untunglah dia cepat mengambil alih situasi, dan menggeser kursi, sambil berkata,:

“Kite nak pesan ape nih,?” ,:  Suaranya di telingaku terdengar bak suara biola , bunyinya.

Aku tersentak seperti baru tersadar, “ Pesan ape jak, ana ikot nt jak,!”  kataku tak mampu mengatur kata. 

 Dia hanya tersenyum tipis, dan berkata lagi,: ” Paket jak ye,?”  lanjutnya. “ He e, !,” jawabku




Sambil berdiri dan mengeluarkan dompet, serta meletakkan selembar seratus ribu diatas meja. Dia meninggalkan tempat, menyambar uang yang ku siapkan, dan berdiri mengantri   di di depan meja pesanan.  Aku masih menunduk, meremas remas tangan,   dan menyambar selembar tissue, mengelap  mukaku, sekedar menutupi malu.

Perlahan  kenangan masa lalu yang mengharu biru hidupku melintas lagi di pelupuk mata.




Gambar Ilustrasi

Pernah aku  melihatnya , ketika aku sedang berjualan di Pasar Sudirman, Dia bersama beberapa temanya sedang berjalan ber iringan  sambil tertawa renyah, memperlihatkan lesung pipitnya,  sedang aku dengan setengah malu,  bersembunyi di balik meja,  agar tak terlihat olehnya.




Ada lagi waktu itu,  aku melihatnya tengah berboncengan sepeda motor dengan seseorang, sementara aku sedang mengayuh sepeda pancal,  aku menolehkan kepala, ketika berpapasan dengannya, dan ketika aku berpaling melihat ke depan, sepeda ku sudah di pinggir jalan, Aku basah kuyup jatuh ke selokan.

Ketika acara reuni, kami sempat bertemu dan berkumpul dengan beberapa teman. Hanya saja, kami tak saling bicara, sementara kami bercanda dengan teman lainnya, aku tak berani mendekatinya.  Aku hanya melihat nya,  dan  Dia hanya melihatku.  Kami hanya bertatapan, jika kebetulan bertemu pandang,  Sampai selesai acara, kami tak bertegur sapa.  Anehnya,  aku merasa sangat bahagia?


Tanpa sadar aku tersenyum, dan tersipu sendirian,

“Ngape ketawa sorang,?”; terdengar suaranya  yang sudah datang  membawa baki hidangan.

“Tadak, cume ingat kenangan jak bah,” jawabku singkat.

Kami kemudian makan bersama, dengan suasana yang sudah agak mencair, dan mulai mengobrol banyak hal. Dia bercerita bahwa sekarang sedang mempersiapkan acara maulid  untuk kelompok pengajianya.  Rencana nya nanti  akan mengundang pembicara dari Jakarta. Aku menanggapi dengan hangat, diselingi komentar singkat.

Se sekali kami tertawa,   aku melihat deretan gigi putihnya yang rapi, masih lengkap, dan lesung pipit itu, masih tetap memikat. Tuhan, gumamku dalam hati, mengapa aku tak di  takdirkan hidup dengan wanita ini?  Padahal kami saling mencintai ?

Obrolan kami berhenti sejenak, ada panggilan masuk di Hp ku, rupanya tamu pelangganku dari Hongkong  sudah tiba di Jakarta, aku berbicara dengannya, dalam bahasa Inggris Amerika. Setelah telfon ditutup, kami lanjut mengobrol.

“Nyamanlah ye, Ente udah jadi pengusaha sekarang,” katanya, disela-sela obrolan kami.

“Alhamdulillah, ini ana maseh merintis gak, cume keliatanye mau jalan, doekan ana ye,?” sahutku

“Duh cintaku,! Gumamku dalam hati. Andai kau tahu, betapa hidupku sangat menderita karena mengenalmu dulu. Sekiranya mampu, kan kuputar waktu, dan tak pernah kulihat kamu, dalam seragam putih biru, yang hadir ditiap mimpiku,  Sekiranya bisa, aku ingin kamu selalu ada, dalam tidur dan jaga, Mungkinkah?,”

“Ente mikerkan ape,?” suara tanyanya, menyadarkan lamunanku.

“Eh, Endak ade, cume mengenang cerite kite dolok ,?”, lucu kalau diingat ye,?” jawabku , mengelak

“Yang mane bagian lucunye,?” katanya lagi

“Awak ingat ndak, kite menjelajah pramuka, sampai bagian harus  nyebrang paret dengan care merayap, ana bilang kamek tak tau carenye kak, cobe kakak tunjukkan carenye lok, dan kakak Pembina kite tu, merayap dari tepi paret, masuk kepala dulu kedalam paret tu, menyelam, timbol, mukenye penuh kena caer, belepotan, baro kite ketawakan die ramai-ramai,!”

 ha,ha ha, kami tertawa bersama.




Sekitar satu jam kami berbincang dan bertukar cerita,

Sampai akhirnya tanpa terasa, kami harus berpisah.

 Aku mempersilahkan dia untuk meninggalkanku  lebih dulu, agar aku dapat menenangkan diriku. Dia mengangguk setuju, dan menggeser kursinya, mengambil  tas  jinjingnya, lalu meninggalkan meja.

“Kame dolok ye,?” Salam alaikum,!” pamitnya padaku, sempat kulihat matanya berubah sayu, dan Dia menarik nafas panjang.  Aku terpaku seperti patung, tak bisa bergerak, padahal,sebetulnya aku masih ingin duduk dan bercengkrama denganya lebih lama,  jika bisa.

Ingin kutahan dan kupegang tanganya, lalu kukatakan,:

” Hanya satu jam kah waktu kita, ?”

“Padahal kita telah berpisah hampir tiga puluh tahun? Tak boleh kah kita bertemu lebih lama, menumpahkan  kepedihan , kerinduan,  siksa batin yang kita tahan, dendam  jiwa yang mencari belahan nya, yang telah pergi menyebrang samudra, karena tak mampu membaca pesan hati seorang wanita?”

Tak bolehkah kita duduk berdampingan, berpegangan tangan, menyalurkan  kepedihan ,?

Tak bolehkah kita saling bertatapan, tanpa kata, tanpa suara, hanya getar jiwa bergemuruh membahana melantunkan lagu cinta, seperti kisah- kisah di novel remaja?  Tak  bolehkah ?

Dadaku terasa perih! Ada mendung bergayut di hati. Kekosongan itu kembali terasa. Hanya saja bedanya, kali ini, aku melepasnya dengan kesadaran.

Dia memintaku untuk menghapus nomor hp nya.  Aku berjanji akan melakukannya. Sebelum Dia menghilang di balik pintu keluar ,!”


“Kami  berpisah karena keadaan yang sudah berubah, karena kami bukan lagi  anak muda,  karena kami sudah menjadi orang tua, karena kami sudah menikah, dan kami ingin mempertahankan cinta kami dalam kesucian, tidak dikotori nafsu hewan, kami memutuskan,

;”Setelah ini, tidak ada lagi pertemuan!,” Kami akan kembali ke kehidupan kami masing-masing, dan menjalani hari, seperti ini tak pernah terjadi. Seperti kami tidak bertemu sebelumnya.

Sempat kulihat tubuhnya yang sekarang  agak gemuk, terlihat lebih tinggi dari sebelumnya, serta  lebih padat dan berisi. Wajahnya tetap cantik seperti yang kuingat.Hanya saja terlihat lebih matang dan dewasa. Tentu saja, sekarang usia kami sudah diatas kepala empat, bukan remaja lagi.



Gambar Ilustrasi

Setelah hari itu, kami tak pernah lagi bertemu!”

Setelah hari itu, kami tak pernah lagi kontak. Aku sudah menghapus nomor Hp nya dari daftar telefonku, seperti yang kujanjikan padanya. 

Meskipun, mungkin, kami masih saling mengingat, tapi itu tak akan mengubah kehidupan yang kami jalani saat ini, bersama keluarga kami masing-masing.

Kami tetap saling mendoakan dari kejauhan


“Kami memang sepakat untuk menjaga jarak. Aku tak ingin kami terkena fitnah, sehingga merusak rumah tangganya, bagiku, kehormatanya lebih utama yang harus kubela, dibandingkan  rasa cinta. Biarlah  cinta kami tetap suci seperti sebelumnya. Tadi ketika bertemu, aku tak mau menyentuhnya, hatta sekedar bersalaman., atau sekedar memegang tangan,”

“Aku cukup bahagia dapat melihatnya. Aku cukup lega dapat bicara langsung denganya. Aku cukup bahagia, kami dapat bertatapan muka, meskipun hanya satu jam, sebagai ganti tiga puluh tahun cinta kami yang hilang, cinta kami yang terpisahkan. 

Trima kasih atas waktu kamu yang satu jam itu! ”

Bagiku  satu jam itu, adalah penyembuh luka batinku selama tiga puluh tiga tahun mencintaimu! Aku merasa mendapatkan hidup baru, diusiaku yang hampir lima puluh!” Akh  Kekasihku!

Aku merasa mendapatkan anugrah luar biasa, atas teka –teki hidupku, selama ini.  Pertanyaan batin yang bergayut dan tak menemukan ujungnya, sudah terjawab. Sekarang aku berkeyakinan dengan prasangka baik kepada Allah, bahwa Ia tak mungkin salah!”

 Jika rasa itu tertanam di dada seorang anak manusia, yakinlah, bahwa getar yang sama ada disana, disisi lain yang berhadapan denganya!” Rasa ketertarikan itu tidak muncul begitu saja, tapi ada yang menggerakkanya. Dialah Allah, Tuhan penguasa hati manusia. Sebab hanya Dia yang mampu membolak –balikkan hati. Memberikan rasa, petunjuk, bimbingan, dan hidayah, kedalam lubuk hati manusia terdalam. 

Jika anda jatuh cinta, jagalah dan peliharalah, jangan kotori dengan nafsu dan bisikan Iblis!”

Jika anda seorang Pria, tanamkanlah kedalam jiwa, bahwa anda ingin menikahinya, mengambilnya sebagai istri yang sah, bukan hanya sekedar ingin menikmati kenikmatan sesaat, dan berbuat maksiat!

Jika anda seorang wanita, katakanlah, :”Ambillah aku dengan nama Tuhan Mu, dengan nama Allah!, tunggulah sampai Aku dihalalkan untuk mu, dan dijadikan perhiasan bagimu,!”



Tidak benar bahwa tanpa cinta, kita tidak  akan bahagia? Sebab cinta yang muncul setelah kita menikah, ternyata lebih indah, itu sudah kami jalani, memang pada mulanya, terasa ganjil dan aneh.

 Akan tetapi, seiring berjalanya waktu, kita  akan lebih dewasa, lebih matang, lebih toleran, lebih mampu menerima perbedaan dan memakluminya, mencari persamaan yang dapat dijadikan perekat dalam kehidupan rumah tangga kita.



Kita  tidak akan pernah menemukan pasangan yang sempurna, tapi kita akan mendapatkan , apa yang terbaik buat kita dan pasangan kita. Mungkin begitulah Sunnatullah bekerja?  Itulah mungkin yang disebut Jodoh?  

Bukan karena kita dan pasangan kita sama, tapi justeru karena kita dan pasangan kita berbeda, mereka disatukan untuk saling melengkapi, saling mengisi, saling mendukung, saling mengingatkan, !” Watawa saubil haq, Watawa  saubi sabr,”  saling mengingatkan dalam kebenaran, dan saling mengingatkan untuk bersabar, dalam segala persoalan kehidupan rumah tangga kita.

“Istri   adalah perhiasan bagi suaminya, dan suami  adalah pakaian bagi istrinya,” Klop bukan?



Dari tempat pertemuan kami, aku menuju keseberang kota.



Setelah kuparkir sepeda motor di halaman Mesjid Sultan, kubasahi tubuhku dengan wudhu, lalu memberi salam untuk Mesjid Sultan, Kuangkat takbir untuk sholat Ashyar, aku bersyukur atas segala karunia Allah, selama ini tak pernah putus membimbing langkahku.  Alhamdulillah!   Subhanallah!


Aku sudah meng ihklaskan hati melepasnya 





Sumpah mati, aku hanya untukmu