Beberapa kali aku mencoba
berkomunikasi di sekolah dan di luar sekolah, tapi tanggapan yang kudapatkan tak mampu membuat hati ku tenang. Jawaban nya selalu mengambang. Yang kulihat, sepertinya ada peperangan yang sangat hebat di batin nya, antara kata hati dan akal nya. Antara perasaan dan logika nya.
Konplik batin inilah yang memicu sikap antara menerima atau menolak. Aku tak tau, apa penyebab nya? Dan karena itulah posisiku menjadi tanpa kepastian.
Terakhir
sempat keluar kalimat dari bibir nya, :
”Biase-biase jak,!”
Dadaku seperti dihantam godam besar,"Dug!"
Lalu terasa sesak, dan hampir membuatku jatuh pingsan saat itu.
Habislah sudah!.
Harapan yang terlanjur ku gantungkan di hati nya, tak mendapat tempat.
Hati ku telah melakukan kesalahan ketika memilih dan menyerahkan dirinya. Ia memilih tempat yang salah, hati yang salah, situasi yang salah, kondisi yang salah.
Ya! Aku telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.
Benarkah ?
Ya! Aku telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.
Hari itu, rasanya bukan saja aku telah kehilangan cinta, bukan hanya kepedihan hati, tapi rasa nya jiwa ku ikut mati. Terbunuh bersama tiga kata yang diucapkan nya.
Hancurlah harapan dan cinta ku. Ternyata apa yang kutakutkan selama ini, memang benar ada nya. Dia tak punya rasa , seperti yang aku rasa. Dia tak pernah simpati, apalagi mencintai.
Tapi apakah itu memang dari lubuk hati nya
terdalam?
"Rasa ini membunuh ku"
Cintaku,
Cintaku,
Mengapa kau angkat muka mu
Waktu kita berpapasan
Dan bersikap, seolah tak pernah mengenal ku
Keangkuhan kah itu?
Tahukah kamu, luka ini kembali menganga
Perihnya merobek jiwa, menghambat langkah,
Melumpuhkan raga!
“Kadang aku membaca
isyarat, samar samar, bahwa sebetul nya, ia pun ada rasa, sama seperti yang
kurasa. Tapi mengapa ia menyimpan, dan menyembunyikannya?, bahkan untuk sekedar
dapat kuketahui dengan pasti?
Sorot mata nya menyimpan kerinduan
Wajah nya lebih cerah dari biasanya
Suara nya terdengar lebih manja dan mendesah,
jika ia bicara dengan teman nya di sebelah ku
Dia juga tak mampu mengangkat muka jika melintas dihadapan ku, apakah karena rasa malu? Kata orang, malu adalah salah satu perhiasan wanita yang tengah jatuh cinta
Benarkah?
Akh, seandai nya?
Ketika kami belajar bersama di belakang istana,
Sempat kulihat keceriaan yang terpancar dari mata nya.
Binar nya menusuk jauh sampai kerelung jiwa. Yang membuat aku tak dapat tertidur lelap malam nya. Alangkah indah nya jika aku mendapat tempat dihati nya?
Bahasa nya mendesah manja, dengan senyum yang menggoda, tiap kali ketika Ia bertanya soal dan jawaban yang tengah kami bahas. Sesekali Ia tertawa renyah dan lepas, meng ekpresikan kebahagiaan hati nya, apakah karena aku ada disamping nya?
Karena kami berdekatan?
Tanpa dapat menahan diri, kadang kusentuh kaki nya di bawah meja, sambil melihat reaksi di mata nya. Ternyata Ia hanya tersenyum dan tersipu, sambil menundukan kepala.
Apakah Ia juga mencintai ku?
Entahlah, !
Saat itu, yang kurasakan adalah kebimbangan dan kegalauan karena tak mendapatkan jawaban. Apalah daya, aku masih remaja, tak pernah mengerti, bahwa wanita, memiliki kemampuan bersandiwara atas perasaan nya, bahwa wanita, mampu berkata tidak, meskipun hati nya berkata “Ya’.
Apalah daya, Aku hanyalah anak manusia, yang
sedang jatuh cinta, tanpa tau kesudahan dan akhir nya. Aku hanyalah Anak Adam, yang
mencintai Putri Hawa, seperti asal nya!,” Aku hanya manusia biasa yang tak pernah tahu takdirnya. Jangan tanya hari esok, karena yang Aku tahu, hari ini, Aku mencintaimu, itu saja.
Waktu
yang paling menakutkan bagi ku, akhirnya tiba juga
Akhir tahun pelajaran semakin mendekat,...
Ujian akhir sudah dilaksanakan,
Kami hanya tinggal menunggu pengumunan. Untuk kemudian menentukan langkah ke jenjang berikutnya. Itu artinya, kami akan
berpisah. Seperti Galih dan Ratna, dalam film Gita Cinta dari SMA. Perpisahan
adalah hal yang paling mereka takutkan, Tapi
apakah itu mungkin dihindari??
"Tetes - Tetes Cinta"
Cinta seperti hujan,
Tiada yang tahu kejatuhan nya
tanpa asal muasal;
Tiada yang melupa dimana sang hujan tercurah;
Ia yang hanya jatuh berlinangan terbasahi penuh sesal;
Ia yang menanti ketiadaan hari-hari yang cerah;
Terberkatilah wahai pepohonan yang berdesah;
Terberkati jualah hati yang menanggung gelisah;
Meneteslah wahai keakuan butir-butir awan;
Terlepaslah apa yang seharusnya terlepaskan;
Apakah mungkin ini semilir kerinduan;
Yang terbungkus erat-erat oleh kebolehjadian?
Ataukah ini hanya segumpal perasaan;
Yang mengkal diantara kebahagiaan dan kesedihan?
Yang masih belum berjatuhan;
Biarlah ia tetap pada semestinya;
Yang masih belum tercurahkan;
Biarlah kelak ia tetap menjadi rahasia;
Wahai belahan jiwa ku
Dengarlah irama hujan itu;
Di setiap rintik nya
Kusebut nama Mu
Sedang apa Dia saat ini?