Minggu, 24 April 2016

Bab.I hal.1 # Pontianak Negeri Bertuah


E P I L O G

Takkan Melayu, hilang di bumi,!” 
( Sumpah  Laksamana Hang Tuah)
Pontianak : Tahun 1970 an




Kampungku dekat Mesjid Sultan



Matahari bersinar cerah pagi ini.,...........


 Seperti biasa aku bergegas mandi di sungai kecil belakang rumah yang berjarak sekitar lima puluh meter. Air pasang naik, sehingga leluasa untuk berenang dan menyelam  sambil bercanda dengan beberapa teman yang sebaya,


 Kami memulai hari dengan ceria.


 Setelah cukup puas bekubang di paret, aku segera meraih handuk kecil di atas tangga, mengeringkan badan dan bergegas naik. Dirumah , "Mak" ( panggilan Ibu di tempat  Ku  ) - telah menyiapkan  baju seragam dan sarapan pagi ini,  segelas kecil kopi dengan dua biji pisang rebus. 




Bekubang - Parsley Music Pontianak



 Kuhirup kopi panas sambil membuka kulit pisang rebus hangat. Lahap, satu biji sudah berpindah keperut ku. Sisa yang satu biji, kumasukkan dalam tas, bekal buat istirahat di sekolah nanti.


“Mak, kame berangkat dulok  ye,?” 


aku pamit pada Mak, sebelum menyambar tas dan mengikat tali sepatu.



“Ye, hati –hati di jalan, nanti langsung balek, kalau sudah selesai sekolah,” 


: Sahut Mak dari depan tungku dapur perapian kayu bakar tempat memasak, yang terbuat dari tanah liat kering, di dapur kami.


“Ye , Mak!” Salam alaikom," jawab ku singkat, 


Langsung menghambur ke jalan gertak di depan rumah kami.





Mesjid Sultan Abdurrahman - Netmediatama channel


  Kampung Kami ini  sangat  tua  dan bersejarah. Kawasan dekat mesjid  Sultan adalah hutan rimba yang pertama di tebang ketika Abdurrahman dan  kaum kerabatnya pertama kali membuka kota Pontianak dulu pada tahun 1771 Masehi Mereka kemudian  mendirikan Mushola kecil tempat beribadah agama nya, yang sekarang menjadi : 



 "Mesjid Jami Sultan  Syarif Abdurrahman  Pontianak."



  Daerah kami termasuk wilayah resapan air pasang surut. Ketika air pasang naik, dimana- mana daerah rendah yang dijangkau nya, terendam air, (Acap = bahasa setempat), ketika acap, air mengangkat dan mengangkut apa saja yang ada diatas permukaan tanah, dan membawa nya ketika surut.



Hamparan "Gertak" 
Jembatan sepanjang tepian  Kapuas



 Hal ini terjadi disebabkan banyak nya anak-anak sungai Kapuas yang mengalir di setiap lekuk- lekuk daratan di pulau Kalimantan ini. Untuk mensiasati hal itu, di bangunlah jalan berupa jembatan kayu, ( Gertak = bahasa setempat ),  yang terbuat dari kayu belian, ( kayu ulin ),  sebagai sarana penghubung satu tempat ke tempat lain nya.



 Konstruksi nya bertiang, dengan tinggi rata-rata sekitar satu sampai dua meter dari atas permukaan tanah yang dirembesi air dimana-mana itu. Sebetul nya, daerah ku ini paling cocok di kembangkan wisata air, dengan segala potensi nya,: 



Misalnya : Memancing, berenang, berdayung, sky air, tamasya sungai, wisata perahu, wisata rakit, wisata mangrove, dan Wisata Sejarah, serta Wisata Religi.





Meriam karbit bagian dari tradisi negeri kami,



Ketika bulan Ramadhan, .......


 Selepas dari masjid, pulang Tarawih, di bulan Ramadhan, Kami biasa nya menonton meriam karbit yang berderet di sepanjang kampung di pinggiran Sungai Kapuas. Meriam karbit, adalah bagian dari tradisi daerah kami yang di agenda kan setiap bulan Ramadhan.



Kemeriahan tembakan meriam yang dibuat dari batang pohon di lubangi, berdiameter antara empat puluh hingga enam puluh centimeter, dengan panjang berkisar tiga ratus hingga enam ratus centimeter ini, suaranya mengguntur,  dan getaran nya mampu memecahkan kaca setebal lima milimeter , tidak ditemukan di daerah lain. Hanya kota Pontianak saja yang tetap menjaga budaya dan tradisi nya yang unik dan menarik ini. Hingga hari ini. 




Gambar Ilustrasi